Sejarah Kebudayaan Suku Halmahera

Halmahera, Orang merupakan penduduk asal dan berdiam dipulau Halmahera dan sekitarnya sebagai bagian dari wilayah Propinsi Maluku. Dilihat dari segi administrasi wilayah ini menjadi bagian dari dua kabupaten, yaitu Kabupaten Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah. Penduduk di kawasan ini dapat disebut sebagian suatu kelompok budaya dengan nama orang Halmahera. Kajian prasejarah atau arkeologi telah memberi perhatian tersendiri terhadap Halmahera atau Maluku Utara.

Daerah ini dianggap mempunyai peranan tersendiri, yang merupakan daerah lintas strategis bagi perpindahan penduduk Asia Tenggara ke Malanesia dan Mekronesia pada masa lalu. Halmahera juga bisa merupakan kunci untuk dapat menetapkan lokasi tanah asal (home land) dari penduduk yang berbahasa Austronesia di kepulauan Pasifik. Kajian yang dilakukan telah menemukan macam-macam artefak, seperti beliung persegi, kapak lonjing, megalit dan gerabag. Ini merupakan tanda kehidupan bercocok tanam di masa lalu itu di Maluku Utara ini.

Pekerjaan pengupamaan alat-alat batu muncul pada masa baru di Maluku Utara, yaitu beliung dan kapak tersebut diatas. Kehadiran bangunan megalit sering ada hubungannya dengan roh nenek moyang yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Maluku Utara ini telah meninggalkan bekas-bekasnya dalam bentuk menhir dan pagar-pagar batu. Gerabah pun memang dikenal pada zaman mulai bercocok tanam ( Soegondho, tahu 1985).

Dalam kawasan ini memang terdapat sekitar 25 kelompok etnik dengan kelompoknya, yang masing-masing jumlah penduduknya relatif sedikit. Para ahli bahasa berpendapat paling tidak sebagian besar dari kelompok itu dapat disatukan dalam satu Keluarga Bahasa Halmahera. Sensus penduduk tahun 1930, yang memperhatikan kesukubangsaan membuat kategori tersendiri untuk kelompok Halmahera ini.

Kelompok-kelompok etnik yang memiliki bahasa atau dialek tersendiri yang tergabung dalam Keluarga Bahasa Halmahera itu antara lain kelompok dengan bahsa Tidore, ternate, Sahu, Makian Barat, Tobaru, Galela, Ibu, Loloda, Tobelo,Modole, Paga, Wasok, Morotai, Basan, Olei, Goruk Kabariemo, Woluka, Gamengi, Buli, Pudiwang. Lolobanta dll.

Kelompok itu diantaranya ada yang hanya berdiam di daratan pulau Halmahera, misalnya orang Sahu, orang Paga, orang Madole. Kelompok tertentu ada yang berdiam di daratan pulau Halmahera dan pulau lain disekitarnya. Sebagian orang Morotai berdiam di pulau Motai dan sebagian lainnya diujung Utara pulau Halmahera. Sebagian orang Galela berdiam di pulau Timur bagian Utara pulau Halmahera di bagian Selatan pulau Morotai. Orang Ternate selain mendiami pulau Ternate juga berdiam di pantai barat pulau Halmahera.

Orang Bacan selain mendiami pulau Bacan juga sebagian berdiam di daratan Halmahera bagian selatan. Selain dari pada itu ada lagi kelompok-kelompok yang dikategorikan sebagai "masyarakat terasing", misalnya kelompok Tugudi, Mange, Kadai, Siboyo.

Sementara ahli lain mengemukakan bahwa masyarakat Maluku Utara dan Halmahera Tengah memperlihatkan keterkaitannya dengan adat istiadat yang merupakan kesatuan indentitas tersendiri.
Namun secara keseluruhan dapat dibedakan dalam tiga wilayah kultural.
  1. Wilayah Kultural Ternate yang meliputi kepulauan Ternate, Halmahera Utara dan Kepulauan Sulu.
  2. Wilayah Kultural Tidore yang mencakup kepulauan Tidore, Halmahera Tengah dan Timur.
  3. Wilayah Kultural Bacan meliputi kepulauan Bacan dan Obi. Pembagian wilayah budaya ini tidak menunjukkan suatu perbedaan prinsipal tetapi gradual, dilihat dari ciri adat istiadatnya.
Masyarakat daerah ini umumnya hidup dari pertanian dan hasil laut. Tanaman perkebunan yang cukup berpotensi adalah kelapa, cengkeh, pala, coklat dan beberapa jenis tanaman lain seperti kopi, kapuk, dan kayu manis. Usaha cocok tanam adalah padi ladang dan sawah baru di mulai, jagung, ketela, kacang-kacangan.

Laut menyimpan kekayaan yang besar dan mereka telah menggarapnya berupa berbagai jenis ikan serta hasil-hasil lainnya seperti mutiara, rumput laut, udang, siput, teripang, cumi-cumi, kerang. Di bidang keagamaan, sebagaian besar penduduknya memeluk agama Islam. Perjalanan sejarah masuknya ajaran agama Islam ke daerah ini sudah cukup lama paling tidak pada abad ke-15, bahkan ada sumber yang menyatakan abad ke-13 dan abad ke-8. Sebagian lain masyarakatnya memeluk agama Kristen Protestan, Katholik, dan Hindu.

Related Posts

Load comments

Comments